Thursday, July 10, 2008

Ciri-ciri Orang Sukses

By Rahmat, Mar 22, 2008,
http://www.motivasi-islami.com/

Salah satu ciri orang sukses ialah mampu mendorong diri untuk mengambil tindakan selalu. Mereka dengan tekun berusaha sampai tujuannya tercapai. Mereka bisa terus menerus mengambil tindakan sehingga semakin hari semakin dekat dengan sukses. yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa mereka terus bertindak?

Jadi Optimis Sekarang Juga!

tambahan by ayahara: bersemangatlah pada apa yg baik utk mu(Alhadits), sedekah pd keluarga & anak yatim, terima taqdir "jangan berkata seandainya.... "(Alhadits),

Ada tujuh hal yang bisa mendorong setiap orang mampu bertindak secara konsisten. Jika Anda memiliki ketujuh hal ini, maka Anda akan mampu terus menerus mendorong diri Anda untuk tetap bertindak. Apa saja ketujuh hal tersebut? Tidak sabar ya? Ini dia ketujuh hal pemicu motivasi Anda.

Ciri pertama ialah gairah yang menyala.
Gairah adalah gaya batin yang mendorong Anda untuk bertindak. Gairah seringkali dihubungkan dengan masalah seksual, karena gambaran gairah bisa dilihat pada gairah seksual. Bukankan hal yang konyol, seseorang sampai tega memperkosa. Ini akibat suatu gairah yang tidak tertahankan. Jika seandainya gairah bisa kita arahkan ke arah yang positif, maka kita bisa melakukan tindakan-tindakan positif yang luar biasa.

Ciri yang kedua adalah kepercayaan yang memberdayakan.
Apa bedanya kepercayaan orang sukses dengan orang yang gagal? Orang gagal memiliki kepercayaan yang membatasi dia untuk bertindak dan berpikir. Kepercayaan memang bisa membatasi tindakan, bahkan berpikir juga. Sementara orang yang sukses memiliki kepercayaan yang memberdayakan. Kepercayaan yang akan membuat dia bertindak dan berpikir besar, sehingga bisa menghasilkan hasil-hasil yang besar.

Ciri yang ketiga adalah strategi yang jitu.
Strategi ialah bagaimana kita menempatkan diri kita di dalam lingkungan sehingga akan menguntungkan diri kita. Strategi juga meliputi bagaimana kita mengorganisasikan sumber daya yang ada. Seperti seorang panglima perang, dia bisa mengorganisasikan pasukan, perbekalan, dan persenjataan untuk memenangkan perang. Inilah yang disebut dengan strategi perang.

Ciri yang keempat adalah nilai-nilai yang mengarahkan.
Nilai-nilai adalah sistem kepercayaan yang menentukan baik dan buruk, benar dan salah. Nilai-nilai berguna untuk mengarahkan hidup kita, sehingga berjalan dengan mulus dan lancar sehingga memudahkannya untuk mencapai tujuan. Kejelasan nilai-nilai akan membuat hidup Anda begitu efektif karena sesuai dengan hal-hal yang Anda hadapi.

Ciri yang kelima ialah energi yang melimpah.
Seperti sebuah kendaraan, tidak akan bisa bertindak jika tidak memiliki energi yang mencukupi. Oleh karena itu kita harus selalu mempersiapkan energi kita agar bisa tetap bertindak. Namun bukan hanya energi fisik, juga energi intelektual, dan energi spiritual. Semuanya diperlukan.

Ciri yang keenam adalah relasi yang harmonis.
Semua orang sukses, selalu dicirikan dengan kemampuan menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Orang yang sukses memiliki kemampuan mengembangkan simpati sesama, tidak peduli apa pun latar belakangnya. Rezeki sering datang melalui silaturahim.

Ciri yang ketujuh adalah komunikasi yang baik.
yang dimaksudkan bukan hanya cara berkomunikasi dengan sesama, tetapi juga cara berkomunikasi dengan diri sendiri. Berkomunikasi dengan sesama yang baik akan menghasilkan relasi yang harmonis. Sementara komunikasi dengan diri sendiri akan menentukan kualitas hidup kita.

Adakah Anda memiliki ciri-ciri tersebut? Saya yakin Anda sudah memiliki ciri-ciri tersebut. Jika Anda ingin sukses, yang kita perlukan ialah belajar dan melatih diri untuk menyempurnakan ciri-ciri orang sukses melekat pada diri kita. Selamat belajar dan berlatih.

Tuesday, July 8, 2008

Belajar Mengelola kEKAYAAN Dari Abdurrahman bin Auf

Selain dari diri Rasulullah yang terdapat contoh yang sempurna, kita juga
bisa belajar dari sahabat-sahabat Beliau dalam membangun kemakmuran
Islam yang kita cita-citakan ini.

Salah satu sahabat beliau yang patut kita contoh adalah Abdurrahman bin Auf yang kesuksesannya dalam berbisnis bisa menjadi tauladan bagi seluruh pengusaha muslim saat ini. Dalam hal urusan akhiratpun banyak yang bisa dicontoh dari Abdurrahman ini karena beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Berikut disarikan prestasi-prestasi Abdurrrahman bin Auf :

• Abdurrahman bin Auf termasuk sahabat yang masuk Islam sangat
awal, tercatat beliau orang kedelapan yang bersahadah 2 hari setelah
Abu Bakar.
• Beliau termasuk salah satu dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar
bin Khattab untuk memilih khalifah sesudahnya.
• Beliau seorang mufti yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk
berfatwa di Madinah padahal Rasulullah SAW masih hidup.
• Beliau terlibat dalam perang Badar bersama Rasulullah SAW dan
menewaskan musush-musuh Allah. Beliau juga terlibat dalam perang
Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan disisi Rasulullah SAW ketika
tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medan
peperangan. Dari peperangan ini ada sembilan luka parah ditubuhnya
dan dua puluh luka kecil yang diantaranya ada yang sedalam anak
jari. Perang ini juga menyebabkan luka dikakinya sehingga
Abdurahman bin Auf harus berjalan dengan pincang, dan juga
merontokkan sebagian giginya sehingga beliau berbicara dengan
cadel.
• Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum
muslimin untuk berinfaq di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf
menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar atau sekitar
Rp 2.4 Milyar nilai uang saat ini(saat itu beliau ‘belum kaya’ dan hartanya baru 4000 Dinar atau Rp 4.8 Milyar). Atas sedeqah ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah SAW yang berbuny i “Semoga Allah
melimpahkan berkahNya kepadamu, terhadap harta yang kamu
berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu
tinggalkan untuk keluarga kamu.� Do’a ini kemudian benar-benar
terbukti dengan kesuksesan demi kesuksesan Abdurrahman bin Auf
berikutnya.
• Ketika Rasullullah membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang
mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah
yang lagi dilanda musim panas. Abdurrahman bin Auf memeloporinya
dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas sampai-sampai Umar bin
Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW “ Sepertinya Abdurrahman
berdosa sama keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya�. Mendengar ini, Rasulullah SAW
bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan
uang belanja untuk istrimu ?� , “ Ya!� Jawab Abdurrahman, “Mereka
saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan�.
“Berapa ?� Tanya Rasulullah. “ Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala
yang dijanjikan Allah.� Jawabnya.
• Setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas
menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mu’minin (para
istri Rasulullah SAW).
• Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang
dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah
padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut
oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu
juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan dengan
sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham
(sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai
+/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda,
dan 1,500 ekor unta
• Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup
waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 juta)
per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.
• Dengan begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, beliau ketika
meninggal pada usia 72 tahun masih juga meninggalkan harta yang
sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000
ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000
Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8
(istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu
seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang
ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar
atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat !.

Bagaimana Abdurrahman bin Auf bisa sangat sukses berdagang dan juga
dijamin masuk surga ?, berikut adalah yang bisa kita tiru dari beliau :

• Seluruh usahanya hanya ditujukan untuk mencari Ridhla Allah semata.
• Bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari
barang yang haram bahkan yang subhat sekalipun.
• Keuntungan hasil usaha bukan untuk dinikmati sendiri melainkan
ditunaikan hak Allah, sanak keluarga dan untuk perjuangan di Jalan
Allah.
• Abdurrahman bin Auf seorang pemimpin yang mengendalikan
hartanya, bukan harta yang mengendalikannya.
• Sedeqah telah menyuburkan harta Abdurrahman bin Auf, sampai-
sampai ada penduduk Madinah yang berkata “ Seluruh penduduk
Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya.
Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari
hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada
mereka�.
• Keseluruhan harta Abdurahman bin Auf adalah harta yang halal,
sehingga Ustman bin Affan RA. yang sudah sangat kayapun bersedia
menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 Dinar bagi
setiap veteran perang Badar. Atas pembagian ini Ustman bin Affan
berkata, “ Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan
harta itu membawa selamat dan berkat�.

Jadi mengelola Dinar tidak berarti menjadi hamba Dinar. Asal kita dapat kembali ke tuntunan dan contoh langsung dari Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Wallahu A’lam.

http://geraidinar.com/2008/02/belajar-mengelola-dinar-dari.php

Bila Cinta Ditolak, Menolak Pria Baik Agamanya

Oleh: Iwan Yanuar

�Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.�

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.

Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta �seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia seutuhnya.

Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.

Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

Percayai qadla

Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.

�Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi �alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: �tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.� (HR.Bukhari)

Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita �Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya'.

Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?

Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia

�Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti,� demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.

Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang �berani' menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, �berani-beraninya...� atau �apa yang kurang dari saya.....�

Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.

Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih �bunga' yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.

� Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.� (HR. Muslim)

Bukan Aib

Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk �perjuangan' menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang �senasib' dan �sependeritaan'.

Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.

�Kita mungkin takkan Bahagia'

Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan.

Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar �perceraian'? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu'alam bi ash shawab

�Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.� ( Al-Baqarah[2]:229 )

Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.

Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.

Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain �bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

�Saya tak mungkin berbahagia tanpanya'

ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.

Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu

�maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!� Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.

Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar �contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna

�Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.� Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan. Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dsb.

Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi �yang penting akhwat� atau �yang penting ikhwan�. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan � sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan

Maka doa kita kepada Allah bukanlah,�berikanlah padaku pasangan yang sempurna� tetapi �ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.�

Kekuatan Ruhiyah

Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da'wah lalu setiap akhwat mendambakannya.

Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita �luar biasa� berjodoh dengan yang �biasa-biasa'. Seperti seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia

Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan �jangan ke-ge-er-an' dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempata (lagi)

�..........dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.� ( QS. Yusuf[12]:87 )

bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya

cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. � love is knocking outside the door.' Kata musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.

�jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata� (HR. Turmudzi)

� Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.� (HR.Ahmad)

Ikh n Akh saling Sms dan Telpon

Selasa, 8 Jul 08 05:39 WIB

Assalamualaikum. Wr Wb
Ustaz, Saya seorang Mahasiswa yang aktif sebagai aktivis dakwah kampus dan sekarang udah semester akhir,

Dalam beberapa hari ini saya berkenalan dengan seorang wanita dalam dunia internet yang menurut saya, sangat bagus akhlaknya dan agamanya

Walau dia belum ngaji.

Terkadang kami SMS dan telpon dan juga saling mengingatkan tok selalu menjaga sholat dan Tilawah Qur;an,

Bahkan, sekarang kami saling mendo'akan untuk Menikah, walau jodoh itu Allah Swt yang mengatur,

Bagaimana ustaz sikap terbaik yang harus saya lakukan?

Dan bagaimana menjaga diri saya agar selalu di dalam koridor Islam yang benar?

Zajakulloh khoir

Rilzid
Jawaban

Wa'alaikum salam wr wb.

Saudara Rilzid yang kami hormati, Islam tidak menghalangi seseorang lawan jenis untuk saling kenal mengenal, Namun tentunya ada aturan-aturan yang dibuat agar perkenalan tersebut terjaga kemurniaannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak melanggar seusai tuntunan agama yang hanif untuk kemaslahatan semua pihak.

Ketika kita bermain di dunia maya ada beberapa hal yang kiranya perlu kita waspadai dikarenakan kita berada dalam alam yang penuh dengan "kira-kira", "khayal" dan selalu mengandung unsur subyektifitas (apa yang terbayang oleh kita belum tentu sama dengan kenyataannya). Benarkah khayalan Anda bahwa ia bagus akhlaq dan agamanya dari apa yang anda dapatkan dari dunia maya ini? Apakah hanya dari perkataan dan tanpa Anda bertatap muka sudah bisa menilai seperti itu?

Hindari "khayalan terlalu jauh." Saat ruang khayal terbuka lebar dengan bumbu-bumbu manis selalu menyertai. Tergoda syahwat untuk memikirkan dan berangan-angan lebih dari waktu ke waktu. Ketika pintu pertemanan lawan jenis terbuka dan mendapat respon yang baik, keinginan kuat untuk lebih masuk dan melewati pintu tersebut mendorong setiap kali ada kesempatan untuk "bertemu." Maka meminta no telepon, alamat rumah, foto hingga ingin mengetahui tanggal lahirnya biasanya menjadi ekor yang akan membuntutinya,

Di mana hati? Kembali untuk kejujuran diri. Apakah ada keikhlasan untuk saling mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an bagi dia semata-mata dari hati yang tulus dan tanpa pamrih? Dan benarkah tidak ada nafsu (syahwat) di dalam diri ini yang mendorong Anda untuk menelepon, ber sms, chatting dan sebagainya? Bagaimana perasaan Anda bila seharian tidak menelepon, bersms dan berchatting dengannya? Dan juga apakah perbuatan yang mulia ini (mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an) juga Anda lakukan untuk teman-teman Anda yang lainnya.

Berpulang kepada diri Anda sendiri. Buatlah batasan-batasan diri untuk memurnikan kembali pertemanan Anda. Jangan melebihkan dalam berteman. Tidak menjadikan teman yang satu (dikarenakan lawan jenis, apalagi "maaf" cantik) lebih dispesialkan dibandingkan lainnya. Jadikan ia sama seperti teman Anda yang lainnya. Berikan keperluannya sebagaimana teman Anda yang lain.

Ketika Anda harus berhubungan dengannya, haruslah mempunyai keperluan yang jelas. Mengandung manfaat yang benar-benar penting dan berguna bukan mengada-ada hanya untuk hal-hal yang tidak jelas dan tidak ada faedahnya sama sekali.

Mulailah untuk merenung di atas kejujuran dan bertanya pada hati dengan sepenuhnya. Apakah hubungan ini murni bertemanan dan tidak ada syahwat hati yang yang mengiringi. Apakah saya masih dalam koridor yang diajarkan Islam ataukah sudah "nyerempet-nyerempet" bahkan sudah keluar dari rel yang sudah ditentukan?

Andalah yang dapat menjawabnya..

Semoga bermanfaat

Kriteria suami yang shaleh

adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah,

1. Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan,
sebagaimana firman Allah swt.,

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)

2. Memberikan nafkah batin
Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)

Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.

“Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”

3. Memberi Bimbingan pada Keluarga
Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)

4. Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya
Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya


“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)

“...dan bergaullah dengan mereka secara baik...” (Q.S. An-Nisaa :19)


“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, dan yang lainnya)

Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A'lam.

Wassalamu'alaikum.
http://forum.dudung.net/index.php?topic=1514.5;wap2

Saturday, July 5, 2008

*Cara Berpikir Syariat*

*Cara Berpikir Syariat*
Hendaknya poligami dianalisa dengan standar syariat, bukan dengan akalmanusia yang sangat terbatas kemampuannya. Syariat ditentukan oleh Allah Swt, sehingga orang beriman wajib menerimanya sebagai hukum yang harus diterima keberadaannya. Syariat bisa jadi sulit diterima akal manusia, tapi sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi umatnya. Dalam Al Qur'an,Allah swt berfirman, boleh jadi sesuatu itu buruk dalam pandangan manusia, tapi Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi manusia.

*Jangan Mengharamkan Sesuatu Yang Tidak Kita Sukai*
Kalau kita tidak suka makan ayam, bukan berarti kita boleh mengharamkanayam.
Kalau kita tidak suka poligami, bukan berarti kita boleh mengharamkan poligami. Karena Poligami diizinkan dalam syariat Islam, maka wajib kita terima keberadaannya.

*Kedudukan Hukum Syariat Poligami*
Poligami hukumnya mubah, artinya bila dikerjakan atau tidak dikerjakan maka tidak ada dosa ataupun pahalanya. Poligami adalah sunnah Rasul, artinya Rasulullah SAW sudah mencontohkan cara berpoligami. Sunnah disini bukansebagai hukum, tetapi sebagai contoh tindakan Rasul. Sedangkan menikah hukumnya sunnah (berpahala bila dilaksanakan) .
Beristri satu adalah lebih ideal. Berpoligami lebih sulit mencapai tingkat ideal, karena menuntut sikap adil (adil dalam pandangan syariat, bukan dalam akal atau hawa nafsu manusia). Tidak ideal bukan berarti tidak baik atau tidak boleh.Mubah juga bukan masalah baik atau tidak baik, tetapi tergantung bijak tidaknya dalam melakukannya.Seorang istri yang sedemikian solihah, semacam Siti Khadijah, mampu membuat Rasulullah SAW untuk tidak berpoligami hingga wafatnya Khadijah karena Khadijah sudah mampu memenuhi semua hal yang dibutuhkan oleh seorang suami. Seorang istri yang solihah di masa kini mungkin bisa berkata secara diplomatis kepada suaminya, bahwa boleh berpoligami asal mampu bersikap adil seperti Rasulullah dan rela menikah dengan wanita berumur. Demikian juga seorang suami yang soleh di masa kini bisa berjanji pada sang istri untuktidak menikah lagi asal sang istri mampu bersikap seperti seorang Siti Khadijah.

*Mengapa Poligami Sulit Diterima*
1. Karena para da'i (juru dakwah Islam) masih kurang intensif atau salah dalam metoda memperkenalkannya. Beberapa tahun yang lalu, ada suatu kelompok masyarakat di Malaysia di suatu perkampungan yang setiap istrinya mendorong para suaminya untuk poligami. Ini akibat dari dakwah yang jelas dan baik yang dilakukan para ustadz setempat. Jadi bila dikomunikasikan secara baik sebenarnya seorang istri bisa menerimanya.
2. Karena sebagian umat Islam belum memahami ilmu Poligami secara mendalam
3. Karena sebagian umat Islam belum meyakini agamanya (syariat Islam) secara menyeluruh dan total (masih ada keraguan akan efektifitas hukum dan syariat Islam).
4. Karena contoh atau berita poligami yang selama ini disebarluaskan media massa lebih ditekankan pada nilai berita poligami-nya, seharusnya lebih menonjolkan aspek keadilannya
5. Bebasnya kegiatan pelacuran, banyaknya pria hidung belang dan kejadian berbagai kasus perzinahan dalam pergaulan masa kini menyebabkan kaum wanita selalu mengkaitkan poligami dengan pelampiasan sahwat kaum pria semata.

*Poligami Sebagai Solusi Sosial*
· Secara biologis wanita mengalami menopouse (usia 40 tahunan) saat pria memasuki semangat baru di usia 40 tahunan.
· Ketika komposisi wanita menjadi semakin membesar dibanding pria, maka seorang wanita akan menuntut haknya, hak untuk dilindungi oleh pria, hak untuk dinafkahi, hak untuk mendapat keturunan, hak untuk bisa dirawat di hari tuanya oleh keturunannya. Ini hanya bisa didapat bila pria bisa berpoligami.
· Hadits yang mengatakan bahwa penghuni neraka lebih banyak wanita dibanding pria, bisa jadi cermin akan lebih besarnya jumlah wanita dibanding pria di masa mendatang sejak saat ini.
· Pemerintah Jerman baru-baru ini mengizinkan pria melakukan poligami, untuk menghindarkan semakin banyaknya wanita yang sekedar ingin punya anak tapi melalui perzinahan. Kalau negara non-Islam saja menganjurkan poligami, bagaimana negara mayoritas muslim menolak poligami.

*Maslahat Poligami Aa Gym*
Karena hukumnya mubah, maka poligami lebih sensitif dampaknya terhadap umat (maslahat). Makan-minum juga mubah hukumnya, ada kalanya kita menunda makan-minum ketika disamping kita ada yang berpuasa. Lantas apakah analog yang sama bisa kita terapkan pada poligami Aa Gym ?Kubu yang lebih moderat tampil dengan pertanyaan, apakah tidak sebaiknya Aa Gym tidak poligami karena dampak negatifnya bagi umat bisa buruk.Untuk menilai ini, kembali lagi kita harus menggunakan standar syariat,bukan akal sehat. Liarnya akal analitis kita juga dipagari oleh larangan ber- su'udzon (negative thinking). Biar bagaimanapun dibanding kita, Aa Gym lebih tahu pertimbangan manfaat dan mudharat atas keputusannya dibanding kita yang berada diluar pagar. Menurut kita mudharatnya lebih besar, menurut Aa Gym yang lebih tahu permasalahannya bisa jadi ia memiliki alasan kuat yang tidak pantas untuk dipublikasikan. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya, bisa jadi Dia sedang menguji sekaligus berbagai jenis dan lapisan masyarakat yang ada di Indonesia saat ini.

Sikap yang harus kita ambil adalah :
1. Menerima fakta bahwa poligami dibolehkan dalam syariat Islam
2. Memahami kedudukan (mubah) dan ilmu mengenai poligami
3. Tidak bersikap su'udzon pada kasus poligami yang ada
4. Menggunakan standard syariat Islam untuk menilai suatu masalah
syariat (polemik poligami)

(Diringkas dari Ceramah Reboan, Habib Rizieq di Petamburan, 5-12-2006

Setelah membaca ringkasan ceramah Habib Risieq, sepertinya kita wanita muslimah perlu memandang poligami bukan dari segi akal tapi lebih kepada masalah syariat nya.

Mampukah kita sebagai seorang muslimah untuk menerima poligami itu?
sumber http://auliah-wawoniinice.blogspot.com/2006/12/poligami-aa-gym-dan-yahya-zaini.html

Kenapa Makin Banyak Tawuran? Bnyk anak makan nafkah haram

fastinnerhtml!